SEMNAS IPA XII: SAINS MASA DEPAN UNTUK GENERASI BERWAWASAN LINGKUNGAN

Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan di masa depan. Berbagai tantangan yang muncul antara lain berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan, pemerataan pembangunan yang berwawasan lingkungan, dan kemampuan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Tolok ukur tinggi-rendahnya kualitas pendidikan secara internasional dapat dilihat dari The Program for International Student Assessment (PISA).

Sabtu, 25 Juni 2022, Jurusan IPA Universitas Negeri Semarang melaksanakan Seminar Nasional Ilmu Pengetahuan Alam Ke-12 (Semnas IPA XII) dengan tema “PISA melalui Sains Masa Depan untuk Generasi Berwawasan Lingkungan”. Semnas IPA XII menghadirkan tiga narasumber utama yaitu Prof. Tri Retnaningsih Soeprobowati (UNDIP), Enang Ahmadi, S.Pd., M.Pd. (LP4TK), serta Dr. Parmin, M.Pd (UNNES). Semnas IPA XII dilakukan secara daring, namun tidak mengurangi semangat para akademisi untuk saling bertukar ide dan pendapat di bidang sains dan lingkungan.  Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa di bidang IPA dan lingkungan, dengan 73 peserta pemakalah pada sesi pararel dan 400 lebih peserta pendengar.

Kegiatan Seminar ini dirancang sebagai ajang pertemuan para pelaksana pendidikan IPA, pemerhati bidang IPA dan lingkungan melalui sharing dan diskusi topik atau gagasan konseptual dan hasil penelitian berkaitan inovasi dalam pembelajaran IPA, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bidang studi IPA, penelitian bidang IPA, penelitian bidang ilmu lingkungan dan pendidikan lingkungan.

Diskusi diawali oleh Bapak Enang Ahmadi, S.Pd., M.Pd terkait pentingnya perbaikan literasi sains untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Literasi sains bukan berarti harus menghasilkan ilmuwan namun dapat menumbuhkan kesadaran-kesadaran ilmiah di setiap peristiwa atau fenomena di sekitar tempat tinggal. Oleh karena itu, guru sebagai sebagai penggerak utama dalam menyiapkan generasi masa depan perlu terus meningkatkan strategi-strategi pembelajaran yang inovatif, salah satunya melalui pembelajaran berbasis proyek dan inkuiri. Inovasi-inovasi dalam pembelajaran sains diharapkan dapat menjadikan sains lebih menarik dan diminati para generasi penerus. Siswa harus dibiasakan mengeksplorasi lingkungan sekitar sehingga tidak terjebak dalam stigma “belajar harus di kelas”.

Menanggapi topik sebelumnya, Prof. Tri Retnaningsih Soeprobowati menyampaikan contoh pembelajaran praktikum biologi pada masa Pandemi Covid. Praktikum dari rumah tetap dapat meningkatkan literasi ilmiah dan minat para siswa/ mahasiswa di bidang sains. Materi yang dicontohkan beliau adalah pengamatan mikrooragnisme dalam perairan, disertai pemanfaatan data base di internet, baik melalui website maupun melalui aplikasi SimRiver yang beliau kembangkan sejak Tahun 2011. Pemanfaatan alat, bahan, dan fenomena alam sekitar disertai dengan pemanfaatan teknologi tepat guna, menjadikan pembelajaran lebih menarik dan bermakna. Isu lingkungan, ketahanan pangan, air, dan sumber daya alam lainnya menjadi topik yang saat ini sedang menjadi fokus kajian para peneliti dan pemerintah sehingga sangat tepat dimasukan dalam pembelajaran. Selain itu, melalui program-program beliau diharapkan dapat menyiapkan generasi berwawasan lingkungan, yaitu generasi yang peduli serta mampu mengoptimalkan sumber daya dan lingkungan sekitar dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem.

Topik diskusi selanjutnya disambung oleh Dr. Parmin, M.Pd mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, khususnya di bidang sains. Beliau menyampaikan dalam kurun waktu 10-20 tahun mendatang, gambaran dalam film science fiction mungkin akan dapat diwujudkan. Sains dan isu ligkungan di masa depan akan sangat menantang. Agar Indonesia dapat mengikuti perkembangan tersebut, maka pembelajaran harus dilaksanakan seoptimal mungkin dengan berbagai inovasi. Namun, selain itu, para generasi Indonesia harus tetap mempertahankan karakteristiknya. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman sumber daya alam dan kebudayaan. Oleh karena itu, di era perubahan yang sangat massif ini, pengenalan budaya-budaya Indonesia tetap harus diberikan berdampingan dengan pemberian topik-topik sains. Hal tersebut guna mendukung terwujudnya pendidikan di Indonesia yang bermutu, berkualitas, serta berkarakteristik.

Semnas IPA XII telah berjalan dengan lancar dan sukses, terlihat dari semua peserta pemakalah dapat menghadiri dan mempresentasikan hasil-hasil pemikiran dan penelitian mereka. Kegiatan ini setidaknya memberikan ruang dan waktu dari berbagai bidang kajian sebagimana pernyataan para narasumber bahwa sains adalah bidang multidisplin dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Sampai jumpa di Semnas IPA selanjutnya, salam cerdas untuk Indonesia Emas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *